Katika Jiwaku Memanggil Senyuman Itu


Seragam Putih Abu pun berakhir
Canda & tawa riang pun terlepas dari mulut kami
Dengan sorak:
“Kami Lulus…”

Masih sangat jelas saat kurangkul mereka
Mereka yang menolongku di jurang kesedihan..
Tertawa dengan bangga ,dan sesekali melompat
Meraih dedaunan hijau di ranting itu…
“Kami sangat senang…”

Pintu masa depan pun terbuka
Kami masih bersama….
Bersama menjalani proses itu…
Kami masih dalam ikatan itu

Tidak….tidak akan terjadi apa-apa
Masih kusaksikan senyuman mereka
Senyum mereka padaku saat itu
Meski ada yang berbeda dari senyuman itu…

“Ah aku tidak peduli..aku bersama mereka..”

Hari itupun tiba…
Kami mendapat pintu yang berbeda…
Tanpa rasa ragu kami masuk dalam pintu masing-masing
Meski ada kata yang tak sempat terucap

Hari pertama,,aku baik-baik saja.
Hari kedua pun begitu…
Ini akan singkat…...
Berjuang menjadi diriku…untuk masa depanku


Saat kubuka jendela facebook.,,

Nampak sebuah foto..
Ya…enam pria seragam cokelat...
Duduk di sebuah sova…
“Aku ada di sana….”

Mata ini tiba-tiba berkaca-kaca
“di mana aku ini???...”
“Kemana kalian semua??”
“Mana tawa canda itu??:”

Aku lari.. Lari sekencang-kencangnya..
Hingga Aku berhenti di sebuah pohon..
“Aku ada di sini dan harus bisa begini…”
Aku Berusaha tertawa sambil meraih daun hijau itu….

“Kenapa?? Kenapa air mata ini jatuh??
“Sakit rasanya…. Sangat sakit…”
“ Jiwaku menjerit…
“Air mataku pun makin menjadi-jadi….

Apakah ini jawaban atas senyum kalian waktu itu..??
senyum yang mengisyaratkan segalanya…
“ Benar!!! Mereka Tiada di sini lagi…
“ Mereka ada tapi tiada…

Mungkin sudah terlambat mengatakan ini
Tapi sungguh jiwa ini memanggilmu…
Memanggilmu untuk kembali…
Hari kemarin,hari ini, dan hari esok, adalah hari kita…

Jika hari kemarin kita bisa bersama dan hari ini tidak,,
Semoga hari esok kalian bisa menjawab panggilan jiwa ini…
Aku tunggu itu dari kalian..
Karena kalian adalah sahabat terbaik yang pernah ada
Dan maafkan aku yang terlambat menyadari itu…


Aswar Sandi --- Jan 6th 2010 --- 00:00 PM

KAU ADALAH MASA LALU


Semuanya telah terjadi,,,
Aku tidak ingin melihat ke belakang lagi,,,
Terlalu sedih untuk diingat kembali,,,
Aku sudah menghadapi kenyataan,,,

Mungkin sudah terlalu lama aku bersamanya,,,
Kenangan itu pun terlalu sulit untuk dibayangkan,,,
Meski semuanya indah, namun menyakitkan,,,
Tak ingin air mata ini menetes lagi..

Kini aku semakin bisa,,,
Semakin siap,,,
Semakin sabar,,,
Dan semakin riang mrnghadapi suatu penghiantan

“Ya.. ” Aku bukan orang cengeng..
Aku sudah bebas dari seragam itu..
Tentu harus semakin siap…
Menghadapi hari esok yang lebih cerah…

Aku tidak berubah…. Aku hanya berusaha..
Berusaha menjadi diriku yang sebenarnya..
Aku tidak bodoh… aku terlalu pandai untuk hal itu,,
Kemarin hanyalah proses…

Aku tidak membencimu..
Tapi setidaknya aku tau bagaimana dirimu…
Aku tidak menyesal pernah bersamamu…
Namun aku sudah tidak inginkan penghianatan lagi…

Aku masih yang dulu…
Aku tidak berubah,,
Aku masih diriku…
“Diriku yang telah kau hianati…”

By:
Aswar Sandi
Jan, 27th 2010 (9.30 pm)

Fatamorgana Para Manusia Cerdas


Aku baru saja menyadari,potensi itu tiada artinya di mata mereka. Jiwa ini seakan meneriakkan “bahwa” potensi dalam diri butuh sedikit cahaya terang agar bisa tumbuh layaknya tumbuhan dengan fotosintesis dan akan menghasilkan udara kebajikan yang tentunya bisa bermanfaat bagi orang lain. Cahayamu dapat menjadikannya tumbuh dengan baik, tapi sepertinya tidak pada diriku. “Baiklah!!” aku terima. Kau yang bisa menilai fatamorganamu dan aku yang bisa menyaksikan realitas di depan mata polosku ini.




Ingin teriak rasanya, namun hal itu akan menjadi sangat lucu. Rasa itu pun terkunci dalam hati dan hanya bisa dibuka oleh mereka yang mampu mendapatkan kuncinya di hati yang dalam ini.
“ tidakkkkkkkkkk!!!!” aku tidak ingin mendengarkannya lagi. Kenapa mesti dia??? Apa aku salah memiliki potensi ini? Atau lebih baik aku jadi seperti dia saja agar bisa beri cahaya untuk kehidupanku? “ghghhhhhhhgggggghhhhhhh!!!!”



Rasanya ingin marah padanya, dan ingin meremas wajahnya. Sikapnya yang mengangkat bahu saat berhadapan denganku membuatku semakin larut dalam cairan yang bersuspensi emosi ini. Sesekali ,,,,,,“ah…! Tidak sekali!” dia seolah tak mengenalku saat bertemu dengannya di sudut ruangan itu. Meski ruangan itu ber “AC’ , namun tidak mampu mendinginkan suasana hati yang telah mencapai suhu 100 derajat ini.


“Aku pulang saja…..!” aku semakin muak melihat wajahnya. Aku benci dengan keberadaannya. Aku tidak suka warna kulitnya. Aku tidak suka melihat muskulus pada fasialnya berubah naik turun. aku tidak suka melihat gingivanya. Aku tidak suka senyumannya. Aku tidak suka melihat hidungnya aku sangat tidak suka dia ada di pikiranku. Dan dia adalah nama terburuk yang pernah mengemis untuk masuk dalam pikiranku. “ Aku benci kehadiranmu di bumi ini……!”
Mengapa mereka simpatik padanya? Apa yang dia miliki?




Tidakkah lagu DEWI LESTARI yang berjudul “MALAIKAT JUGA TAHU” telah cukup menyinggung mereka untuk lebih peka menatap diriku yang telah diakui orang di luar sana?


(….Aku tiba di rumah..)
Kulepas kemeja ini dan berbaring sejenak sambil menutup mata.
“Tidakkkkkkkkkkkkk…………kkkkkk….k!!!” dia berani masuk dalam angan-anganku.Dia tersenyum licik padaku seolah berbicara bahwa dialah pemenangnya. Belum usai senyuman itu merusak angan-anganku , hp SAMSUNG dengan bangga bergetar seolah meneriakkan keperkasaannya.



“Wah..wah,..wah….!!” itu Sms salah satu dari mereka yang hobi ber-“Fatamorgana” yang tidak biasanya masuk ke dalam server hp ku. Tak sedikitpun keinginanku membuka SMS itu. Aku bersumpah dengan suara hati akan mengabaikannya meski ada rasa gelisah yang menggejolak dalam hati karena ingin membacanya. “Baiklah!!!” aku buka saja sms itu. Toh sumpah itu belum kuikrarkan. “He…he….he…he….he….



SMS itu lumayan panjang. Sungguh tak menarik untuk dibaca. Namanya yang terpampang sempat membuatku muak dan ingin berteriak “ benci” padanya. Namun semuanya kulampiaskan dengan mengikuikuti jalur kata-kata itu. Sungguh SMS yang sangat berani memerintah mataku untuk mengikuti jalurnya. “baiklah..aku makhluk beragama!!!! Aku menghargai kinerja jemarimu dalam mengetik SMS ini…”



Tiba-tiba mataku terhenti dan mendapatkan kejutan pada suatu kalimat padahal mataku tidak sedang berulang tahun saat itu. “ hah?????” aku mengangah cukup lama dengan pikiran yang melayang entah kemana seolah tidak percaya dengan hadiah yang diperoleh dan apa yang kubaca. Apa dia mengirimkanku sebuah fatamorgana agar ikut berpartisipasi mengsorakkan si “DIA” yang selalu merasa menang terhadapku ?



“TIDAK!!! INI NYATA!!!” ternyata dia dan temannya mengagumi diriku selama ini. Entah hal itu benar atau tidak. “YIPPPPYYYYYYYYYY…!!!!” saya tidak peduli.



Pengakuan itu akan berlaku selamanya apapun yang terjadi. Tunggu pembalasanku,,,,,,,,,,!!!!!!!! “KAU” yang telah menyambarku dengan keangkuhanmu.

Friends Forever