
Aku baru saja menyadari,potensi itu tiada artinya di mata mereka. Jiwa ini seakan meneriakkan “bahwa” potensi dalam diri butuh sedikit cahaya terang agar bisa tumbuh layaknya tumbuhan dengan fotosintesis dan akan menghasilkan udara kebajikan yang tentunya bisa bermanfaat bagi orang lain. Cahayamu dapat menjadikannya tumbuh dengan baik, tapi sepertinya tidak pada diriku. “Baiklah!!” aku terima. Kau yang bisa menilai fatamorganamu dan aku yang bisa menyaksikan realitas di depan mata polosku ini.
Ingin teriak rasanya, namun hal itu akan menjadi sangat lucu. Rasa itu pun terkunci dalam hati dan hanya bisa dibuka oleh mereka yang mampu mendapatkan kuncinya di hati yang dalam ini.
“ tidakkkkkkkkkk!!!!” aku tidak ingin mendengarkannya lagi. Kenapa mesti dia??? Apa aku salah memiliki potensi ini? Atau lebih baik aku jadi seperti dia saja agar bisa beri cahaya untuk kehidupanku? “ghghhhhhhhgggggghhhhhhh!!!!”
Rasanya ingin marah padanya, dan ingin meremas wajahnya. Sikapnya yang mengangkat bahu saat berhadapan denganku membuatku semakin larut dalam cairan yang bersuspensi emosi ini. Sesekali ,,,,,,“ah…! Tidak sekali!” dia seolah tak mengenalku saat bertemu dengannya di sudut ruangan itu. Meski ruangan itu ber “AC’ , namun tidak mampu mendinginkan suasana hati yang telah mencapai suhu 100 derajat ini.
“Aku pulang saja…..!” aku semakin muak melihat wajahnya. Aku benci dengan keberadaannya. Aku tidak suka warna kulitnya. Aku tidak suka melihat muskulus pada fasialnya berubah naik turun. aku tidak suka melihat gingivanya. Aku tidak suka senyumannya. Aku tidak suka melihat hidungnya aku sangat tidak suka dia ada di pikiranku. Dan dia adalah nama terburuk yang pernah mengemis untuk masuk dalam pikiranku. “ Aku benci kehadiranmu di bumi ini……!”
Mengapa mereka simpatik padanya? Apa yang dia miliki?
Tidakkah lagu DEWI LESTARI yang berjudul “MALAIKAT JUGA TAHU” telah cukup menyinggung mereka untuk lebih peka menatap diriku yang telah diakui orang di luar sana?
(….Aku tiba di rumah..)
Kulepas kemeja ini dan berbaring sejenak sambil menutup mata.
“Tidakkkkkkkkkkkkk…………kkkkkk….k!!!” dia berani masuk dalam angan-anganku.Dia tersenyum licik padaku seolah berbicara bahwa dialah pemenangnya. Belum usai senyuman itu merusak angan-anganku , hp SAMSUNG dengan bangga bergetar seolah meneriakkan keperkasaannya.
“Wah..wah,..wah….!!” itu Sms salah satu dari mereka yang hobi ber-“Fatamorgana” yang tidak biasanya masuk ke dalam server hp ku. Tak sedikitpun keinginanku membuka SMS itu. Aku bersumpah dengan suara hati akan mengabaikannya meski ada rasa gelisah yang menggejolak dalam hati karena ingin membacanya. “Baiklah!!!” aku buka saja sms itu. Toh sumpah itu belum kuikrarkan. “He…he….he…he….he….
SMS itu lumayan panjang. Sungguh tak menarik untuk dibaca. Namanya yang terpampang sempat membuatku muak dan ingin berteriak “ benci” padanya. Namun semuanya kulampiaskan dengan mengikuikuti jalur kata-kata itu. Sungguh SMS yang sangat berani memerintah mataku untuk mengikuti jalurnya. “baiklah..aku makhluk beragama!!!! Aku menghargai kinerja jemarimu dalam mengetik SMS ini…”
Tiba-tiba mataku terhenti dan mendapatkan kejutan pada suatu kalimat padahal mataku tidak sedang berulang tahun saat itu. “ hah?????” aku mengangah cukup lama dengan pikiran yang melayang entah kemana seolah tidak percaya dengan hadiah yang diperoleh dan apa yang kubaca. Apa dia mengirimkanku sebuah fatamorgana agar ikut berpartisipasi mengsorakkan si “DIA” yang selalu merasa menang terhadapku ?
“TIDAK!!! INI NYATA!!!” ternyata dia dan temannya mengagumi diriku selama ini. Entah hal itu benar atau tidak. “YIPPPPYYYYYYYYYY…!!!!” saya tidak peduli.
Pengakuan itu akan berlaku selamanya apapun yang terjadi. Tunggu pembalasanku,,,,,,,,,,!!!!!!!! “KAU” yang telah menyambarku dengan keangkuhanmu.
Welcome
Fatamorgana Para Manusia Cerdas
Diposting oleh Do everything that you can do!!! 20.10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




0 komentar:
Posting Komentar